CLOSE
Indonesia Duduki Peringkat Kedua di Indeks Gender SDGs
November 13, 2018

JARINGAN internasional Equal Measures atau EM2030 menyusun sebuah indeks gender Sustainable Development Goals (SDGs). Indeks gender itu disusun dari 12 tujuan SDGs di enam negara yaitu Indonesia, Senegal, Kolombia, El Salvador, India, Nigeria, dan Kenya.

Indeks Gender SDGs digunakan untuk melakukan perbandingan lintas-negara dan analisa yang mendalam serta untuk mengkaji tentang permasalahan kesetaraan gender terhadap keseluruhan SDG dan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ‘hilang’ dan tidak tercermin secara memadai dalam data global yang tersedia saat ini.

Dalam indeks gender itu, Indonesia menduduki urutan kedua terbaik setelah Kolombia dan mendapat kategori baik untuk SDGs tujuan 1, 4, 5, 17 dan 8 (penghapusan kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, kemitraan dan pekerjaan dan pertmbuhan).

Di samping kemajuan tersebut, ada dua tujuan yang nilainya paling lemah dibanding negara lainnya yaitu SDGs tujuan 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan) dan 10 (ketimpangan).

"Indeks gender SDGs di Indonesia yang dinyatakan baik ditunjukkan dengan prestasi Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan, kemajuan tingkat partisipasi sekolah, posisi perempuan dalam jabatan penting terutama jumlah menteri perempuan dan khusus tujuan 17 kemajuan sistem perpajakannya dinilai paling progresif diantara enam negara yang diteliti pada 2015 dan keterbukaan statistik gender pada 2017," ungkap Institut KAPAL Perempuan, salah satu organisasi perempuan yang melakukan review terhadap penyusunan indeks gender SDGs dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Selasa (13/11).

Meski kesetaraan gender tergolong baik, imbuh KAPAL Perempuan, Indonesia masih mempunyai masalah besar yaitu tingginya angka perkawinan anak perempuan yang dilegitimasi oleh budaya dan kebijakan berbasis norma-norma konservatif dan patriarki.

Adapun dua tujuan SDGs yang lemah dibanding lima negara lainnya adalah tujuan 8 ditunjukkan dengan rasio tertinggi perempuan terhadap laki-laki yang dianggap sebagai “pekerja penyumbang keluarga” (contributing family workers) pada 2017 mencerminkan pekerjaan yang rentan (seringkali tidak berbayar) jauh lebih banyak mempekerjakan perempuan daripada laki-laki.

Tujuan 10 ditunjukkan dengan lemahnya komitmen Indonesia terhadap kesetaraan gender dalam Konstitusi nasionalnya (sejajar dengan El Salvador) pada tahun 2017.

"Penyediaan indeks gender SDGs ini merupakan upaya dukungan terhadap pengarusutamaan isu-isu gender ke dalam seluruh tujuan dengan prinsip ‘tidak membiarkan satu orangpun tertinggal’," ungkap KAPAL Perempuan.

Indeks gender SDGs itu diluncurkan dalam rangkaian “Bulan Peringatan Hari Antikekerasan Terhadap Perempuan” oleh Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) Leny Rosalin. Sambutan kunci yang diberikan adalah pentingnya kesadaran tentang masalah dan upaya pencegahan perkawinan anak di Indonesia. Perkawinan anak mengancam pencapaian SDGs, terutama dalam pencapaian pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain.

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/197410-indonesia-duduki-peringkat-kedua-di-indeks-gender-sdgs