CLOSE
Mataram Maggot Centre
Kota Mataram
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Pekerjaan Layak Dan Pertumbuhan Ekonomi

Konsumsi Dan Produksi Yang Bertanggung Jawab


Pengelolaan sampah organik adalah salah satu tantangan besar yang dihadapi banyak kota di dunia, termasuk Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Mataram dalam mengatasi permasalahan ini adalah Mataram Maggot Centre, sebuah program yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup.

Masalah pengelolaan sampah di Kota Mataram semakin kompleks dengan banyaknya sampah yang terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sebagian besar berupa sampah organik basah. I Made Wibisana Gunaksa, Pembina Bank Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, menyatakan bahwa kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, seperti pencemaran dan berkurangnya daya tampung TPA. Ini dibuktikan dengan data pada tahun 2021 yang menunjukkan bahwa Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) di Kota Mataram melampau kapasitas bahkan sampah sampai ke badan jalan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Mataram Maggot Centre diinisiasi sejak tahun 2022, dimulai di lingkungan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, Mataram. Mataram Maggot Centre mengolah sekitar 3 – 5 ton sampah organik setiap harinya di tahun 2023. Ditambah setiap harinya, maggot dapat dipanen sekitar 70 sampai 80 kilogram. Maggot tersebut dikirim ke petani ikan di Karang Anyar Sweta. Sampah menjadi rupiah kini nyata dihasilkan dari budidaya maggot ini. Jika dulunya sampah yang bisa menjadi rupiah hanya sampah plastik, maka DLH Kota Mataram kini sudah membuktikan jika sampah organik juga bisa membawa berkah. Berdasarkan sumber yang menyatakan harga Maggot senilai Rp6.000,00 per kilogram dengan potensi kebutuhan dan kemampuan panen sekitar 70 sampai 80 kilogram setiap harinya, maka perkiraan nilai bulanannya sekitar Rp12,6 juta. Mataram Maggot Centre berhasil mengolah sampah organic menjadi sumber daya yang bernilai, sekaligus mengurangi jejak sampah organik masyarakat setempat.

Program ini mendukung pencapaian SDG 8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemanfaatan maggot sebagai pakan ikan. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada SDG 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA dan mendukung produksi serta konsumsi yang lebih berkelanjutan melalui ekonomi sirkuler ditandai dengan sampah organik yang digunakan sebagai makanan maggot, dan maggot bisa dimanfaatkan sebagai makanan ikan sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

Program ini mendukung praktik pertanian dan perikanan berkelanjutan. Maggot yang dihasilkan bukan hanya bermanfaat untuk pengolahan sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Maggot ini memiliki kandungan protein tinggi yang sangat cocok untuk pakan ternak unggas dan pelet ikan. Berdasarkan Penelitian, Maggot mempunyai nilai nutrisi tinggi, yaitu mengandung protein berkisar antara 45,47-47,27%, lemak antara 21,38-24,55%, abu sekitar 6,39-10,31%, dan serat kasar antara 4,41- 17,57% yang penting bagi peternak lokal dan pembudidaya ikan. Dengan begitu, Mataram Maggot Centre tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga mendukung praktik pertanian dan perikanan yang berkelanjutan.

Mataram Maggot Centre menjadi contoh inovasi dalam menciptakan solusi inovatif yang berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan ekonomi. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Mataram Maggot Centre telah berhasil mengurangi produksi sampah yang dibuang ke TPA Kebon Kongok mencapai 25 ton setiap harinya. Dari yang semula 240-250 ton per hari. Kini produksi sampah Kota Mataram yang masuk ke TPA Kebon Kongok sekitar 205-215 ton per hari.

Inisiatif ini menunjukkan bagaimana pengelolaan sampah melalui Black Soldier Fly (BSF) dapat mengatasi masalah lingkungan. Keberhasilan Mataram Maggot Centre (MMC) ditopang oleh peran aktif DLH Kota Mataram yang menggerakkan pengelolaan sampah organik dan membangun kemitraan dengan masyarakat. Dukungan infrastruktur dari pemerintah pusat melalui pembangunan TPST modern di Sandubaya juga memperkuat kapasitas pengolahan. Sinergi keduanya menjadikan MMC efektif sebagai pusat pengolahan limbah sekaligus edukasi dan pemberdayaan ekonomi.

Program ini diharapkan dapat menginspirasi kota-kota lain untuk menerapkan prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan, yang penting untuk pembangunan yang ramah lingkungan.

Referensi

https://www.rri.co.id/daerah/424751/maggot-inovasi-kota-mataram-serap-sampah-hingga-3-ton-perhari?utm_source

https://insidelombok.id/mataram/budidaya-maggot-di-mataram-sudah-sumbang-pad/?utm_source

https://lombokpost.jawapos.com/lapsus/1502796136/mataram-maggot-center-kebon-talo-dulu-terbengkalai-kini-tertata-indah?utm_source

https://kicknews.today/sampah-numpuk-di-kota-mataram/

https://media.neliti.com/media/publications/354484-pembuatan-maggot-untuk-masyarakat-pembud-16ee5e8f.pdf

https://lombokpost.jawapos.com/lapsus/1502796136/mataram-maggot-center-kebon-talo-dulu-terbengkalai-kini-tertata-indah   

Sumber foto: https://assets.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/0x0/webp/photo/lombokpost/2023/02/Maggot-Center-Mataram.jpg 


Kontributor:

Muhammad Satrio Wibowo

Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

UCLG ASPAC

Intern