CLOSE
Jak Lingko: Manifestasi Sistem Transportasi yang Berkelanjutan
DKI Jakarta

Energi Bersih Dan Terjangkau

Industri, Inovasi, Dan Infrastruktur

Kota Dan Pemukiman Yang Berkelanjutan


Sebagai ibu kota negara Indonesia, DKI Jakarta tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk pesat yang diikuti oleh perkembangan berbagai macam fasilitas dan infrastruktur untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakatnya. Terhitung pada tahun 2019, jumlah penduduk di Provinsi DKI Jakarta mencapai 10.5 juta dan diproyeksikan akan terus melonjak hingga 11.3 juta di tahun 2030 (BPS, 2019). Jumlah penduduk yang sangat banyak ini tentu saja membawa tantangan tata kelola kota yang pelik bagi pemerintah DKI Jakarta, beberapa darinya adalah kemacetan dan sarana transportasi publik yang memadai.

Dicetuskan pada 15 Januari 2004 sebagai jawaban atas kemacetan yang kian parah, TransJakarta merupakan sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) yang sekaligus menjadi BRT pertama di Asia Tenggara dan Asia Selatan pada saat itu. Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebanyak Rp120 miliar dalam proses pembangunannya yang hingga kini, TransJakarta memiliki jalur lintasan menjadi yang terpanjang di dunia dengan jarak sejauh 208 kilometer [1]. Pada akhirnya, pemutakhiran system BRT ini dicapai dengan mewujudkan sistem transportasi yang berkesinambungan melalui program Jak Lingko–yang sebelumnya dikenal sebagai Program Ok Otrip.

Jak Lingko (Jak berarti Jakarta; Lingko berarti jejaring yang diambil dari sistem persawahan di Manggarai, NTT) merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai wujud dukungan terhadap jaringan transportasi massal yang terpadu dalam bentuk kartu pintar yang digunakan untuk pembayaran transportasi publik. Program ini menyatukan sistem pembayaran transportasi bus kecil (mikrotrans), sedang, dan besar TransJakarta dengan transportasi massal berbasis rel, seperti MRT, LRT, dan kereta rel listrik. Integrasi sistem ini dapat merealisasikan perpindahan yang efisien antara satu moda ke moda lainnya dengan harga yang sangat terjangkau.

Setelah menerima sambutan kehormatan dalam ajang Sustainable Transport Award (STA) pada tahun 2019, Provinsi DKI Jakarta telah sukses meraih penghargaan STA tahun 2021 [3]. Perolehan ini merupakan kulminasi dari tahun demi tahun perkembangan infrastruktur transportasi DKI Jakarta untuk menghubungkan sistem transportasi paratransit (becak, angkot, mikrolet) dan bus-bus lokal dengan stasiun-stasiun BRT agar mampu menjangkau wilayah yang lebih luas. Dengan demikian, masyarakat DKI Jakarta akan terdorong untuk turut serta mengedepankan penggunaan transportasi publik di kegiatan mereka sehari-hari dalam rangka mengurangi emisi Gas Rumah Kaca.

Referensi:

[1] Sulistyawaty. 2018. Transjakarta Mengasah Peradaban Ibu Kota. Diakses dari https://arsip-interaktif.kompas.id/transjakarta

[2] Anonim. 2018. FAQ Jak Lingko. Diakses dari https://transjakarta.co.id/faq-jak-lingko/

[3] Njoku. 2020. Jakarta, Indonesia Wins 2021 Sustainable Transport Award. Diakses dari https://www.itdp.org/press-release/jakarta-indonesia-wins-2021-sustainable-transport-award/

Sumber Gambar:

https://www.freepik.com/free-vector/passengers-waiting-bus-city-queue-town-road-flat-vector-illustration-public-transport-urban-lifestyle_10173277.htm


Kontributor:

Deano Damario Putrayurin

Kota Malang, Provinsi Jawa Timur

UCLG ASPAC

Intern