CLOSE
metro
pendidikan inklusif kota metro

Pendidikan merupakan hak asasi manusia paling fundamental yang dilindungi dan dijamin oleh hukum nasional dan internasional. UUD RI Tahun 1945 secara tegas menjamin bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, yang diperkuat lagi dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Si stem Pendidikan Nasional dan Peraturan Mendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan lnklusif bagi peserta didik yang memilki kelainan dan potensi kecerdasan dan atau bakat yang istimewa.

Pendidikan inklusif merupakan pendekatan pendidikan yang inovatif dan strategis untuk memperluas akses pendidikan bagi semua anak berkebutuhan khusus, termasuk anak penyandang cacat. Secara luas ini dapat dimaknai sebagai bentuk reformasi pendidikan yang menekankan sikap anti diskriminasi, perjuangan akan persamaan hak dan kesempatan, keadilan, dan perluasan akses pendidikan bagi semua, peningkatan mutu pendidikan, upaya strategis dalam menuntaskan wajib belajar 9 tahun, serta upaya mengubah sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK).

Jumlah anak berkebutuhan khusus tahun 2012 di Kota Metro adalah sebanyak 292 anak yang bersekolah dan 81 anak yang tidak bersekolah. Pada tahun 2012, ada cukup banyak ABK usia sekolah di Kota Metro yang tidak bersekolah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak ini tidak bersekolah.

Faktor pertama adalah sikap sebagian orang tua yang masih menyembunyikan anak berkebutuhan khusus karena malu mengakui keberadaannya, kedua karena akses menuju Sekolah Luar Biasa (SLB) dari tempat tinggal cukup jauh (sementara sekolah reguler menolak keberadaan ABK), ketiga adanya beberapa sekolah inklusif namun belum menunjukkan keberadaannya yang memiliki visi untuk meningkatkan pendidikan anak berkebutuhan khusus dan masih berorientasi pada proyek sementara saja, keempat masih kurangnya pemahaman para guru atau tenaga pengajar tentang esensi pendidikan inklusif, terkadang hanya kepala sekolah saja yang paham.

Ada beberapa sekolah yang menyatakan memiliki anak didik ABK dalam jumlah besar, namun pernyataan ini diberikan dengan maksud tertentu, yaitu hanya untuk kepentingan mendapatkan dana saja. Pada saat diverifikasi ternyata bukan hanya anak-anak ABK melainkan anak didik yang bukan kriteria ABK, hal ini terjadi akibat belum adamya pemahaman pihak sekolah dan tenaga pengajar akan kriteria ABK.

Berdasarkan jenis disabilitasnya, jumlah ABK di Kota Metro ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut:

Saat itu hanya anak-anak ABK yang berasal dari keluarga mampu yang dapat bersekolah di SLB. Pada umumnya masyarakat belum pa ham bahwa ABK juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya terhadap pendidikan, sehingga masih banyak ditemui adanya penolakan dari beberapa pihak sekolah serta orang tua siswa reguler terhadap ABK. Di samping itu, belum adanya perhatian pemerintah terhadap anak-anak berkebutuhan khusus yangtelah berprestasi.

Materi selengkapnya silahkan download DISINI

Dokumen Foto: http://ragamlampung.com/2017/09/11/dinas-pendidikan-metro-gelar-workshop-khusus-anak-anak-inklusif/