CLOSE
Tunggal Dara dan SICENTIK, Program Andalan Kota Semarang dalam Penanganan Demam Berdarah Dengue
Semarang
Jawa Tengah

Kehidupan Sehat Dan Sejahtera

Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan


Kota Semarang pernah menduduki peringkat pertama jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Provinsi Jawa Tengah pada lima tahun berturut turut hingga tahun 2013. Kota ini merupakan kota pesisir yang terdampak perubahan iklim dan memiliki populasi yang padat sehingga membuat Kota Semarang rentan pada penyakit tular vektor, termasuk demam berdarah.  

Penyakit DBD (demam berdarah dengue) merupakan penyakit yang berbahaya sebagaimana dituliskan oleh World Health Organization. DBD menyebabkan spektrum penyakit yang luas, berkisar dari gejala subklinis dimana orang tidak tahu bahwa mereka terinfeksi, hingga gejala mirip flu parah pada mereka yang terinfeksi. Kemudian, mereka yang mengalami demam berdarah parah dapat mengalami komplikasi berupa perdarahan hebat, kerusakan organ, dan / atau kebocoran plasma.

Semarang memiliki 5.556 insiden DBD pada tahun 2010 dan selalu memiliki lebih dari 3000 kasus DBD hingga 2014. Awalnya, sebuah inisiatif diperkenalkan melalui proyek ACTIVE (Actions Changing the Incidence of Vector-Borne Endemic Diseases) pada tahun 2013 hingga 2016, yang merupakan bagian dari Program ACCCRN (Asian Cities Climate Change Resilience Network). Proyek ACTIVE merupakan kerjasama Mercy Corps Indonesia dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang, Dinas Pendidikan Kota Semarang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang, perangkat kecamatan dan kelurahan di Kota Semarang, para akademisi, dan aktor-aktor kesehatan di tengah masyarakat. ACTIVE bertujuan memperkuat kapasitas sistem kesehatan dan ketahanan Kota Semarang dalam menghadapi DBD yang diperparah oleh perubahan iklim. Program ini juga turut melibatkan para pelaku kunci seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah dasar, pemerintah di tingkat Kelurahan dan Kecamatan, serta masyarakat di enam kelurahan di Kota Semarang.

ACTIVE menerapkan variasi metode yang digunakan dalam rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas seperti permainan edukatif, pendekatan partisipatif, diskusi interaktif, lokakarya, penggunaan modul dan alat peraga, pertemuan untuk menggalang komitmen pemangku kepentingan, edukasi kepada orang dewasa, dan kegiatan pendampingan yang selalu melibatkan masyarakat. Melalui pendekatan ini, Dinas Kesehatan Kota Semarang mampu meningkatkan semangat masyarakat dalam mengikuti berbagai kegiatan mulai dari pelatihan hingga mempraktekkan hal-hal yang mereka pelajari terkait pengendalian dan pencegahan DBD dalam kehidupan sehari-hari. Selain memotivasi masyarakat, pendekatan alternatif diharapkan dapat membentuk budaya masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

210319-2

Keterangan Gambar : Kampanye Pengendalian DBD Sebagai Salah Satu Pendekatan dalam Program Actions Changing the Incidence of Vector-Borne Endemic Diseases (ACTIVE). Diakses dari : https://www.acccrn.net/blog/mercy-corps-indonesia-together-semarang-city-government-engage-community-build-health

Sebagai upaya untuk mendukung alur informasi tentang perkembangan kasus DBD, ACTIVE turut mendukung Pemerintah Kota Semarang dalam mengembangkan Sistem Informasi dan Peringatan Dini Kesehatan (Health Information and Early Warning System - HIEWS)  agar dapat diakses secara online. Dengan adanya sistem informasi ini, masyarakat dan sekolah dapat melaporkan temuan jentik nyamuk dan kasus DBD di lingkungannya melalui SMS ke server yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang. Puskesmas dan rumah sakit di Kota Semarang juga memiliki akses untuk melaporkan data terkait kasus DBD melalui sistem HIEWS ini.

Tujuan lain dari pengembangan sistem secara online ini adalah untuk meningkatkan respon cepat dari para pemangku kebijakan kesehatan di Kota Semarang, khususnya Dinas Kesehatan, untuk mencegah perkembangan kasus DBD. HIEWS dilengkapi dengan kemampuan prediksi kasus DBD yang dipengaruhi oleh parameter iklim dengan data yang disediakan oleh BMKG (Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika) Kota Semarang, sehingga Dinas Kesehatan Kota Semarang dapat mengantisipasi perkembangan kasus DBD lebih baik lagi. Sebagai contoh, laporan pasien oleh rumah sakit dapat dilakukan secara online dan real-time. Lalu, pemberitahuan adanya kasus DBD kepada petugas dan pemangku wilayah dilakukan melalui sistem SMS Gateaway sehingga petugas dan pemangku wilayah dapat secara cepat menggerakkan masyarakat untuk melakukan antisipasi penyebaran dengan melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) 3M secara mandiri.

Hingga April 2016, sistem HIEWS telah mencatat lebih dari 10 ribu data terkait demam berdarah sejak sistem didirikan sejak September 2015. Dari jumlah tersebut, 7.555 adalah laporan pemantauan jentik nyamuk dari masyarakat dengan rata-rata 175 orang dari enam kecamatan yang melapor setiap bulan. Semua tindakan ini telah menunjukkan hasil sesuai dengan indeks bebas jentik di enam kecamatan, yang telah meningkat sekitar 26,3% dari 69,1% menjadi 95,4% dalam waktu 7 bulan. Keenam wilayah lokasi percontohan dilaporkan lebih tangguh untuk kasus demam berdarah sejak pembangunan kapasitas intensif dimulai.

Pemerintah Kota Semarang terus mengembangkan sistem online ini dengan menggabungkan cara-cara preventif dan kuratif dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan penanganan DBD dan pengendalian penyakit DBD di Kota Semarang. Hal ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang dengan membuat sebuah sistem integrasi yang memungkinkan seluruh sektor untuk melaporkan dan menerima informasi yang berkaitan dengan DBD. Program ini lalu diberi nama Tunggal Dara (Bersatu Tanggulangi Demam Berdarah). Melalui Tunggal Dara, sinergitas seluruh sektor diharapkan untuk meningkat sehingga dapat menekan angka kejadian DBD di Kota Semarang. Kota Semarang diketahui mengalami penurunan jumlah kasus DBD dari 441 kasus DBD dengan 14 kematian pada tahun 2019 menjadi 309 kasus DBD dengan 4 kematian pada tahun 2020.

Selain sistem online tersebut, pendekatan proyek ACTIVE untuk peduli demam berdarah sejak dini juga terus diperluas oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang. Pendekatan ini dilakukan dengan mengajak siswa untuk melakukan pemantauan jentik di rumah masing-masing didampingi orang tua dan kemudian melaporkan hasilnya kepada guru di sekolah setiap hari Senin. Program ini diberi nama SICENTIK (Siswa Cari Jentik). Program SICENTIK merupakan program tanpa anggaran yang mengedukasi dan membiasakan siswa dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama dalam pencegahan demam berdarah. Dengan demikian anak menjadi lebih mengenal dan membiasakan diri sejak dini untuk melakukan PSN. Program SICENTIK telah dapat diterima dan telah dijalankan serta berkontribusi dalam menurunkan kasus DBD di Kota Semarang. Program SICENTIK ini juga merupakan  langkah nyata konsep bergerak bersama seluruh sektor dalam penanganan DBD di Kota Semarang.

Pada tahun 2021, program Tunggal Dara terpilih menjadi salah satu finalis IDC Smart City Asia Pacific Awards untuk kategori Public Health dan Social Services, bersama finalis pemerintah daerah lainnya dari Korea Selatan, RRT, Taiwan dan Singapura.

Melalui program Tunggal Dara, Pemerintah Kota Semarang berkontribusi dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target ke 3 yaitu Mengakhiri Penyakit Tropis dan Penyakit Menular Lainnya. Selain itu, proses panjang yang telah dilalui oleh Kota Semarang dalam memerangi insiden demam berdarah ini dengan melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan merefleksikan upaya peningkatan kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Sumber Gambar :

  1. Dinas Kesehatan Kota Semarang. 2020. Tunggal Dara. Diakses dari : https://www.youtube.com/watch?v=A5j8k1qdMgQ
  2. World Health Organization. Dengue and Severe Dengue. Diakses dari : https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
  3. IDC Smart City Asia Pacific Awards. 2020. TUNGGAL DARA (Bersatu Tanggulangi Demam Berdarah). Diakses dari : https://www.idc.com/ap/smartcities/2021-finalists/?modal=details
  4. Nasrulloh, Alfan. 2016. Mercy Corps Indonesia together with Semarang City Government engage the community to build health resilience towards dengue fever under the impact of climate change. Diakses dari : https://www.acccrn.net/blog/mercy-corps-indonesia-together-semarang-city-government-engage-community-build-health
  5. Pratama, Isnu Putra., dkk. 2017. Community Capacity Building through an Alternative Approach Based on Participation in Handling Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Semarang. Diakses dari : http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=631228&val=7386&title=Community%20Capacity%20Building%20through%20an%20Alternative%20Approach%20Based%20on%20Participation%20in%20Handling%20Dengue%20Hemorrhagic%20Fever%20DHF%20in%20Semarang
  6. Prayoga, Nyoman. 2016. Kota Semarang Bergerak Bersama Cegah DBD, 100% Bebas Jentik. Diakses dari : https://www.kompasiana.com/nyomanprayoga/573a8f28ba93731f05c055a5/kota-semarang-bergerak-bersama-cegah-dbd-100-bebas-jentik

Kontributor:

Catherine Aurora Dakhi

Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

UCLG ASPAC

Intern

Aniessa Delima Sari

Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta

UCLG ASPAC

Project Manager